Benarkah Makan Perlahan Bantu Turunkan Berat Badan?

Senin, 10 September 2018 - 17:49:32 | dibaca: 127 kali


Ilustrasi
Ilustrasi / ist

HASIL studi menunjukkan bahwa orang yang makan dengan cepat cenderung memiliki tubuh yang lebih berat. Alhasil, berat badan pun cenderung lebih cepat bertambah daripada mereka yang biasa makan perlahan. Mengapa demikian?

Sebuah penelitian yang dimuat dalam BMJ Open Februari 2018 mencoba menggali lebih dalam hubungan antara perubahan gaya hidup dengan pertambahan berat badan. Secara spesifik, studi ini mencari efek kecepatan makan terhadap penurunan berat badan.

Yumi Hurst dan Haruhisa Fukuda dari University Graduate School of Medical Sciences di Fukuoka, Jepang, meneliti data 60 ribu nasabah asuransi kesehatan yang memiliki diabetes dalam periode enam tahun.

Dari 2008 sampai 2013, orang-orang ini rutin melakukan pemeriksaan kesehatan yang mencakup pengukuran indeks massa tubuh, lingkar pinggang, serta pemeriksaan darah dan urine.

Mereka juga diberikan kuesioner terkait kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan dan tidur. Di bagian pola makan, secara khusus ditanyakan apakah kecepatan makan mereka tergolong cepat, normal, atau lambat.

Ternyata hasil penelitian menemukan bahwa individu yang memiliki kebiasaan makan perlahan cenderung lebih sehat secara fisik dan memiliki gaya hidup yang lebih teratur.

Selama enam tahun penelitian, lebih dari setengah responden memperlambat kecepatan makan mereka. Perubahan yang terjadi pada responden adalah berkurangnya ukuran lingkar pinggang dan indeks massa tubuh.

Hasil analisis lebih lanjut menemukan bahwa makan dengan kecepatan normal berhubungan dengan penurunan risiko obesitas sebesar 29 persen, dan mengubah kecepatan makan menjadi lebih lambat berhubungan dengan penurunan risiko obesitassebesar 42 persen.

Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa efek yang ditemukan oleh peneliti ini murni bersifat statistik dan belum bisa menjelaskan hubungan sebab-akibat antara makan perlahan dengan penurunan berat badan. Tapi, ada indikasi bahwa berat badan bisa turun dengan mengubah kebiasaan makan menjadi lebih lambat.

Mekanisme penurunan berat badan saat makan perlahan

Secara teori, penemuan ini sebetulnya masuk akal. Sebab studi-studi pendahulu menemukan bahwa kebiasaan makan yang cepat berhubungan dengan resistensi insulin, yang merupakan cikal bakal dari munculnya diabetes.

Saat makan, lambung akan terisi dan teregang, sehingga akan memicu rasa kenyang. Namun, untuk benar-benar merasa kenyang, otak juga harus menerima serangkaian sinyal dari hormon pencernaan yang dikeluarkan oleh saluran cerna.

Dalam kondisi normal, usus akan melepaskan zat yang menekan produksi hormon ghrelin sebagai pengatur rasa lapar. Usus juga akan melepaskan hormon anti-lapar cholecystokinin (CCK), peptida YY (PYY), dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1).

Ketiga hormon ini akan mengirimkan pesan ke otak bahwa Anda sudah cukup makan dan zat-zat gizi yang masuk sedang diserap. Alhasil, nafsu makan turun, Anda merasa kenyang dan akhirnya berhenti makan.

Proses ini membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar 20 menit. Karena itu, makan dengan perlahan akan memberikan waktu pada otak untuk menerima sinyal-sinyal ini.

Berdasarkan teori tersebut, bisa disimpulkan bahwa makan terlalu cepat akan membuat Anda makan secara berlebihan, sebab otak kekurangan waktu untuk menerima sinyal kenyang.

Sebaliknya, makan dengan perlahan dapat mengurangi jumlah total kalori yang dikonsumsi. Dalam jangka panjang, mekanisme ini akan memberikan efek penurunan berat badan.

Menjalani diet dengan makan perlahan tampaknya sederhana, namun tidak semudah itu untuk dilakukan bagi mereka yang sudah mengalami obesitas.

Pada umumnya, penderita obesitas telah mengalami resistensi hormon leptin, sehingga tubuhnya menjadi kurang responsif terhadap hormon kenyang. Belum lagi, adanya makanan-makanan yang menggoda selera kerap memicu keinginan untuk makan.

Membiasakan diri untuk makan perlahan tetap layak dicoba, terutama bila Anda sedang berusaha menurunkan berat badan. Bersabarlah, sebab tidak ada perubahan yang instan. Karena mengubah kebiasaan juga memerlukan waktu. Namun bila sudah terbiasa, pada akhirnya makan perlahan akan menjadi sesuatu yang alami bagi Anda.

Penulis: net

Sumber: jpnn.com