Keluhan Warga tak Direspon, Puluhan Hektar Sawah Terancam tak Bisa Digarap

Sabtu, 08 September 2018 - 22:43:42 | dibaca: 430 kali


Warga bergotong royong, berusaha untuk mengatasi kondisi putusnya jalur pengairan puluhan hektare sawah
Warga bergotong royong, berusaha untuk mengatasi kondisi putusnya jalur pengairan puluhan hektare sawah / ist

BANGKO, meranginekspres.com- Program Swasembada Beras yang gencar dicanangkan pemerintahan Jokowi sejak beberapa waktu lalu, sepertinya tak mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Terbukti, cukup banyak keluhan dari petani padi, khususnya padi sawah yang dilontarkan ke instansi pemerintah daerah, namun seperti tak mendapat tanggapan positif.

Seperti halnya yang dialami puluhan Kepala Keluarga (KK) di desa Lubuk Pungguk kecamatan Jangkat kabupaten Merangin, lebih kurang 40 hektare lahan sawah yang selama ini menjadi 'urat nadi' sumber penghidupan sekitar 62 KK, tahun ini terancam tak bisa digarap maksimal.

Pasalnya, lahan sawah yang selama ini mengandalkan pengairan dari sungai batang mentenang, saat ini warga kesulitan mengairi sawahnya. Sebab jalur pengairan yang sebelumnya dibuat dengan cara swadaya oleh masyarakat, sudah tidak bisa digunakan lagi lantaran terputus diterjang banjir bah beberapa waktu lalu.

Para pemilik lahan sawah tersebut bukan tiada upaya. Gotong royong telah dilakukan guna mengupayakan masuknya air sungai ke lahan sawah tersebut. Namun apa hendak dikata, keterbatasan kemampuan warga yang berswadaya sepertinya tidak begitu menjanjikan untuk maksimalnya pengairan 40 hektar lebih lahan sawah tersebut.

Sejatinya, karena akses pembuatan jalur pengairan yang berupa tebing di pinggiran sungai sudah runtuh, dan tidak ada lokasi lain untuk pemindahan titik irigasi, warga bisa saja berupaya membuat jalur air dengan sarana yang seadanya, seperti membuat jalur air dari batangan bambu sedemikian rupa. Dan hal itu sebenarnya telah dilakukan, namun tentu saja cara demikian tidak akan mampu mengairi lahan persawahan yang tidak sedikit itu.

"Warga telah berusaha membuat jalur air seadanya, membuat jalur dari bambu dengan cara bergotong royong, namun mana mungkin air itu bisa mencukupi untuk lebih kurang 40 hektare sawah tersebut," tutur Suan, salah satu warga.

Selain berupaya melalui cara swadaya, usaha lain dalam hal mendapatkan perhatian dari pemerintah, juga telah beberapa kali dilakukan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Merangin hingga Pemerintah Provinsi Jambi, telah pula dimintai perhatiannya oleh warga.

Namun miris, lagi-lagi gayung tak bersambut, beberapa kali permohonan yang diajukan itu, hingga saat ini belum mendapatkan respon positif dari instansi terkait.

Alasan klasik sepertinya lagi-lagi membuat pengaharapan warga yang terdiri dari 60an KK ini terbentur, dimana alasan keterbatasan anggaran selalu menjadi 'andalan' pihak terkait.

"Sudah beberapa kali kami ajukan permohonan bantuan, baik ke kabupaten maupun ke provinsi juga sudah, namun belum ada tanggapan," sebut Tomas, warga lainnya.

Dengan kondisi ini, tentu saja warga sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah melalui instansi terkait, terlebih saat ini sudah akan memasuki musim turun ke sawah.

Penulis: zhf
Editor: zhf