SPBU Gurun Mudo Diduga Jadi Sumber Penimbunan BBM

Kamis, 31 Mei 2018 - 02:33:11 | dibaca: 1030 kali


SPBU Gurun Mudo yang Diduga Jadi Sumber Penimbunan BBM
SPBU Gurun Mudo yang Diduga Jadi Sumber Penimbunan BBM / eqg

SAROLANGUN, meranginekspres.com- Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dijalan lintas Sarolangun-Tembesi Desa Gurun Mudo Kecamatan Mandiangin yang berbatasan dengan desa semaran Kecamatan Pauh kabupaten Sarolangun provinsi Jambi diduga menjadi tempat sumber penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM) berbagai jenis, mulai dari solar, pertalite & bensin.

Pantauan Merangin Ekspres dilapangan, Rabu (30/5) terjadi antrian oleh kendaraan mobil pribadi berbagai jenis dengan melakukan pengangkutan berulang-ulang di pom bensin tersebut.

Kejadian ini sering menjadi keluhan oleh para sopir angkutan batu-bara, travel dan angkutan ekspedisi lainnya. Karena mereka sering tidak dapat bagian ketika akan melakukan pengisian BBM.

‘’Kami seringkali tidak dapat ngisi BBM di Pom ini, kadang jam 9 pagi sudah habis. Kami juga sering melihat antrian panjang kalau lewat, bahkan kadang ada mobil yang berulang-ulang antrian,” kata seorang sopir bernama Andri ketika ditemui dilokasi tersebut.

Ia mengatakan bahwa kejadian ini sudah berlangsung lama, setiap mau melakukan pengisian pasti akan ada antrian panjang akibat adanya kendaraan yang melakukan penimbunan.

‘’Pokoknya ada terus antrian, kami juga heran. Kenapa ditempat lain kami dak begitu sering antrian seperti ini,” kata Andri.

Sementara itu, terkait kondisi ini pihak pom bensin ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa aktifitas penimbunan tersebut memang ada. Hal itu banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar.

‘’Kalau penimbunan dengan kendaraan itu memang ada, tapi tidak ada yang memodifikasi tankinya, itu rata-rata masyarakat sekitar,” kata manager pom bensin desa gurun mudo kecamatan mandiangin milik PT. Sabang Raya, Boy ditemui di Sarolangun.

Ia mengatakan bahwa terkait hal itu, pihaknya sudah kewalahan untuk melakukan penolakan terhadap perilaku tersebut makanya sekarang dibiarkannya.

‘’Mau diapakan bang, saya gak mau terus ditempeleng (ditampar) oleh oknum masyarakat sekitar, kalau melarang. Mereka bilang itu bagian dari mata pencahariannya,” kata Boy.

Bahkan katanya, untuk menghindari perilaku penimbunan itu, pihaknya pernah menghentikan pasokan minyak, untuk masuk ke pom. Tapi didemo oleh masyarakatnya karena dianggap mematikan seseran mata pencaharian mereka.

‘’Pernah memang kita stop, tapi malah kita diserang seolah kehadiran pom tidak memberikan dampak baik bagi ekonomi masyarakat sekitar,” katanya.

Penulis: eqg
Editor: zhf