Joko Sebut Sejumlah 'Orang Penting' Ikut Nikmati Aliran Dana TIK

Kamis, 29 Maret 2018 - 23:41:25 | dibaca: 686 kali


Ilustrasi
Ilustrasi / ist

BANGKO, ME- Satu dari tiga terpidana kasus dugaan penyelewengan Dana Bansos Pengadaan TIK tahun 2015, Joko Wahyono yang kini masih menjalani hukuman, terus mendesak pihak penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus yang telah memakan 'korban' tiga terpidana itu.

Desakan itu sebut Joko, bukan tak beralasan. Dia mengaku belum puas dengan penanganan kasus dugaan penyelewengan, yang menyebabkan kerugian negara hingga ratusah juta rupiah itu.

Pasalnya, menurut Joko sejumlah pihak yang juga terlibat dalam kasus ini, bahkan ikut menikmati aliran dana TIK ini, hingga kini belum tersentuh hukum.

"Saya sudah sampaikan laporan sya ke Kejari, tapi sampai saat ini tidak ada respon. Saya jelas tidak terima, kenapa pihak yang ikut menikmati aliran dana itu, malah masih bebas berkeliaran," ujar Joko.

Lantas siapa saja yang dia sebut ikut mengenyam aliran uang haram itu ? Joko mengungkap, diantara pihak yang dituding telah menerima 'jatah' dari hasil korupsi itu, sebagian merupakan para 'orang penting' alias pejabat teras di tataran pemkab Merangin.

"Saya siap dikonfrontir dengan pihak-pihak yang saya sebutkan dalam laporan saya. Mereka masing-masing dapat bagian, tapi sampai sekarang sama sekali belum tersentuh hukum. Saya pertanyakan ke Kejari, tidak ada tanggapan pasti," bebernya.

Sayangnya Joko masih menolak blak-blakan terkait pihak yang ia sebut sebagai 'orang penting' dengan alasan menghargai proses hukum.

"Kalau memang tidak ada respon, nanti pada waktunya akan saya bongkar semuanya," kata Joko yang kini masih mendekam di balik jeruji besi Lapas Bangko.

Baca juga: Kasus Penyelewengan Dana TIK Masih Berpolemik, Kejari Didesak Usut Tuntas

Disisi lain ia juga menceritakan, pada awal dirinya ditetapkan sebagai tersangka pada 2015 lalu, salah satu 'orang penting' yang ia sebut dapat bagian Rp 25 juta, bahkan menjanjikan akan memberi 'perhatian' dan membantu membiayai keluarganya, hingga kebutuhan sekolah anak-anaknya, selama Joko menjalani hukuman.

Namun kata Joko, apa yang dijanjikan itu tak lebih hanya pepesan kosong, bahkan saat ini salah satu anaknya yang tengah menuntut ilmu di Yogyakarta, tengah kesulitan biaya.

"Sudah saya jadi korban, saya juga kena PHP (Pemberi Harapan Palsu_red). Dulu orang itu berjanji akan membantu biaya sekolah anak saya, tapi ternyata bohong. Sekarang anak saya yang sedang kuliah malah terlantar di Jogja, saya benar benar merasa dizholimi," tutur Joko, sembari mengatakan, bahwa orang-orang yang ia sebut terlibat, telah ia cantumkan dalam laporannya ke Kejari, Juni 2017 lalu.

"Semoga kasus ini segera di usut tuntas, jangan ada tebang pilih dalam penegakan hukum," harapnya.

Penulis: zhf
Editor: zhf